Selasa, 23 Maret 2010

Daftar perguruan tinggi kedinasan di Indonesia

Dari De Jong Java Kauman

Berikut adalah daftar perguruan tinggi kedinasan di Indonesia, disusun berdasarkan nama departemen/kementerian/LPND yang membawahi.

Daftar isi

Badan Intelijen Negara

Badan Meteorologi Dan Geofisika

Badan Pertahanan Nasional

Badan Pertanahan Nasional

Badan Pusat Statistik

Badan Tenaga Nuklir Nasional

Departemen Dalam Negeri

Departemen Energi Dan Sumber Daya Mineral

Departemen Hukum Dan Hak Asasi Manusia

Departemen Kebudayaan dan Pariwisata

Departemen Keuangan

Kementerian Kelautan dan Perikanan

Departemen Kesehatan

Departemen Perhubungan

Departemen Perindustrian RI

Departemen Sosial

Kepolisian Negara RI

Lembaga Administrasi Negara

Departemen Pertanian ; Perkebunan ; Kehutanan

Lembaga Sandi Negara Republik Indonesia

Senin, 15 Maret 2010

Dibalik Isyarat Jasad Wangi Dulmatin

Ditulis oleh de Jong Java KAUMAN pada 12 Maret 2010

EMPAT hari sudah, Dulmatin menghembuskan nafas pamungkas untuk menemui Rabbnya, sejak ditembak tim Densus 88 di Pamulang, Tangerang Banten pada Selasa 9 Maret 2010, bersama dua orang rekannya. Para pelayat dan pengantar jenazah Dulmatin mencium aroma wangi memancar dari jasadnya. Pertanda apakah ini?

Kamis malam, pukul 20.50 WIB, jenazah Dulmatin diberangkatkan menuju Pemalang, dari Rumah Sakit Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, dibawa mobil ambulans yang dikawal dua mobil polisi.

Jenazah Dulmatin tiba di kediaman keluarga di Jalan Garuda Pasar Patarukan, Pemalang, Jawa Tengah sebelum subuh, pukul 03:00 WIB.

Kepulangan jasad Dulmatin yang bernama asli Amar Usman bin Usman bin Sovie ini disambut dengan spanduk heroic bertuliskan

“Ammar bin Usman Sovie Bukan Teroris Tapi Mujahid.”

Nampak dari mobil ambulans berplat B 1017 TIX dikeluarkan peti jenazah bertuliskan nama Joko Pitono alias Amar Usman alias Dulmatin yang tertempel di bagan depan.

Begitu jenazah tiba di rumah orang tua Dulmatin yang berada persis didepan pasar Petarukan Pemalang, peti langsung diusung oleh para pelayat dan dimasukkan ke dalam rumah sekaligus toko yang bercat hijau.

Setelah peti jenazah dibuka dan keluarga menyaksikan kondisi jenazah, kemudian keluarga mempersilakan para pelayat yang mayoritas laki-laki untuk melihat keadaan jenazah.

Para pelayat yang datang kebanyakan berasal dari kota Solo, Pekalongan, Semarang, Kudus dan beberapa kota terdekat lainnya. Bahkan ba’da subuh tadi aliran mobil pelayat mulai tambah berdatangan.

Prosesi pemakaman ini diawali dengan upacara pelepasan oleh seluruh keluarga besar Dulmatin. Iringan takbir pun lantang disuarakan sekelompok orang bersama keluarga.

Sebelum dibawa ke pemakaman keluarga, jasad Dulmatin dishalatkan terlebih dahulu di Masjid Baitul Mutaqin yang tak jauh dari kediaman Dulmatin.

Keluarga besar Dulmatin tampak menghadiri pemakaman tersebut dengan hikmat, di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Lenong, Kelurahan Lenong. Pemakaman ini berjarak sekitar 5 kilometer dari kediaman keluarga.
Selain keluarga, masyarakat pun turut serta menghantarkan tersangka yang diduga menjadi otak bom Bali I tahun 2002 itu.

Pasca pemakaman, berita adanya aroma wangi dari jasad Dulmatin pun beredar luas. Sebuah sms yang berisi kesaksian tentang kondisi yang bunyinya sbb:

“Bismillah… saya istri asy-syahid Dulmatin menyaksikan bahwa suami saya insya Allah SYAHID.. Saya mencium wangi dari jasadnya dan darahnya.. tersenyum, bersih wajahnya, ketenangan terpancar.. tampak lafadz Alloh di langit.. Pekikan takbir naik ke atas.. Subhanalloh, Allohu Akbar3x.”

Dulmatin bukan Teroris tapi Mujahid

Meski tidak mengenal betul sosok Dulmatin, Pimpinan Ponpes Al Mukmin, Ngruki, Sukoharjo, Ustadz Abu Bakar Ba’asyir menyakini bahwa Dulmatin bukanlah seorang teroris yang selama ini diburu polisi. …mereka pejuang Islam, bukan teroris, yang teroris adalah Amerika. Itu yang dibalik, maling teriak maling, tapi Indonesia taklid, kata Ba’asyir… Menurutnya, Dulmatin adalah seorang mujahid, karena membela orang Islam yang tertindas di luar negeri. Kendati dinilai teroris, Ba’asyir mempersilakan masyarakat tidak setuju dengan jihad cara Dulmatin.

“Silakan masyarakat menilai, yang saya tahu mereka pejuang Islam, bukan teroris, yang teroris adalah Amerika. Itu yang dibalik, maling teriak maling, tapi Indonesia taklid,” kata Ba’asyir, Jumat (12/3/2010).

Selain itu, menurut Ba’asyir, berbeda jasad orang yang disebut teroris dengan jasad orang yang bukan teroris. Hal itu, dibuktikan dari jenazah Dulmatin dari kawan-kawan yang melihat langsung jenazahnya sebelum dimakamkan.

“Saya dengar dari kawan-kawan di sana yang melihat jenazah Dulmatin. Baunya wangi dan darah masih mengalir. Kenapa demikian, itu membuktikan dia bukan teroris. Sebab kalau teroris, lima menit setelah mati pasti busuk,” kata Ba’asyir. Wallahu a’lamu bis-shawab. [Kabar & Foto: voa-islam.com/kn]

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki” (Ali Imran 169).

Akhir Perjalanan Dulmatin, Bukan Akhir Perburuan Teroris

Tewasnya Joko Pitono alias Dulmatin alias Yahya Ibrahim yang diterjang peluru pasukan Datasemen Khusus 88 Antiteror Mabes Polri dalam penggerebekan di ruko Multiplus Pamulang, Tanggerang Selatan sekitar pukul 12.00 WIB pada 9 Maret 2010 lalu, bukan berarti ancaman aksi terorisme di negeri ini berakhir. Pasalnya, masih banyak para pengikut Dulmatin maupun jaringan teroris yang sampai saat ini belum juga diketahui keberadaannya.

Kematian gembong teroris internasional yang dihargai 10 juta dollar oleh pemerintah Amerika Serikat ini bukanlah akhir dari segalanya. Kematian Dulmatin justru menyisakan berbagai pertanyaan besar bagi kepolisian Indonesia maupun masyarakat yang resah akan ancaman terorisme di negeri ini. Seperti, siapakah sebenarnya dalang atau pemimpin di balik aksi teror yang terus dilakukan para teroris tersebut? Adakah orang yang akan menggantikan peran Dulmatin sebagai perakit dan juga ahli peledak bom? Apakah sasaran utama dalam aksi teror yang mereka lakukan? Dan berbagai pertanyaan besar lain yang hingga saat ini pihak kepolisian pun masih belum mau berbicara banyak mengenai hal-hal tersebut.

Dan pertanyaan yang paling menjadi sorotan bagi kami adalah siapa orang yang diberikan wasiat sebelum Dulmatin tewas di tangan petugas. Pasalnya, menurut informasi sebelum Dulmatin tewas tertembak, Dulmatin sempat mengirimkan pesan melalui surat elektronik kepada seseorang di kelompok pemberontak Abu Sayyaf di Filipina Selatan. Dalam pesannya, Dulmatin menuliskan kata “eksekusi”.

Menurut aparat yang sempat membaca pesan tersebut, kata eksekusi itu berarti sebagai pesan perintah penyerangan di Indonesia. Selain itu, aparat kepolisian pun menyatakan bahwa orang itu diyakini memegang peranan penting sebagai komando umum atas rencana serangan teror yang sering terjadi di Indonesia.

Hingga saat ini belum jelas, siapa sebenarnya orang yang menerima wasiat dari Dulmatin? Yang pasti, pihak kepolisian mengaku bahwa orang itu bukanlah Umar Patek alias Umar Arab alias Umar Syekh alias Zacky yang diketahui sebagai teman dekat Dulmatin yang kabur ke Filipina setelah keduanya terlibat serangan Bom Bali I pada 2002 silam.

Menurut informasi dari salah satu sumber, mengatakan bahwa sejumlah anggota kelompok Abu Sayyaf memang telah datang dan berada di Indonesia sejak bulan November 2008 lalu, dan posisi mereka saat ini telah siap menerima perintah. Atau menurut kepolisiaan, mereka sekarang sudah dalam posisi “on call”. Selain itu, pihak kepolisian juga menyatakan bahwa pelaku yang akan turun dalam serangan itu adalah pelaku lama, yang juga diketahui sebagai mantan tahanan.

Dengan begitu, masyarakat diminta untuk tetap waspada dari segala ancaman aksi teror yang akan dilakukan para tororis itu pasca tewasnya sang perakit bom handal, Dulmatin. Meski begitu, pihak kepolisian berharap agar masyarakat tidak perlu khawatir dan takut akan segala macam ancaman terorisme itu. Cukup laporkan segera ke pihak kepolisian jika ada orang-orang yang dinilai cukup mencurigakan.

Umar Patek dan Heru Kuncoro Terus Diburu

Terlepas dari kematian Dulmatin, hingga saat ini pihak kepolisian masih terus melakukan pemburuan ekstra keras bagi kolompok teroris tersebut, salah satunya adalah Umar Patek. Karena menurut kepolisian, Umar Patek adalah orang yang cukup disegani di jaringan Jamaah Islamiyah karena memiliki kemampuan jauh di atas rata-rata.

Kabarnya, Umar Patek tidak hanya mampu merakit dan meledakkan bom, dia pun telah mempelajari dan menguasai berbagai metode teror, sabotase, penyerangan rombongan, hingga penculikan. Kemampuan Umar Patek kabarnya terasah berkat pergaulannya dengan kelompok Abu Sayyaf dan juga terlatih beraksi di daerah-daerah konflik, seperti Poso dan juga Ambon.

Tidak hanya Umar Patek, kepolisian kabarnya juga terus memburu salah seorang yang memiliki kemampuan setara dengan Umar Patek. Tidak lain, dia adalah adik ipar dari Dulmatin, Umar Kuncoro alias Uceng.

Menurut salah satu sumber, mengatakan bahwa keduanya kini masih berada di Filipina dan terus melakukan komunikasi dengan jaringannya di Indoensia. Namun, menurut sumber lain mengatakan bahwa mereka meyakini Umar Patek kini sudah ada di Indonesia, sedangkan Heru Kuncoro masih ada di Filipina.

Nah, kalau begitu, apakah Heru Kuncoro orang yang mendapat wasiat dari Dulmatin mengenai pesan eksekusi tersebut. Hingga saat ini belum jelas, karena pihak kepolisian belum mau memberikan keterangan apapun mengenai informasi orang yang mendapatkan wasiat dari Dulmatin tersebut.

Yang pasti, hingga saat ini pihak kepolisian Republik Indonesia masih terus berupaya penuh untuk menangkap hidup-hidup kedua orang tersebut dan juga anggota dari jaringan teroris yang sangat meresahkan masyarakat Indonesia maupun dunia.

Jadi, meski perjalanan Dulmatin telah berakhir di tangan pasukan Datasemen Khusus 88 Antiteror Mabes Polri beberapa waktu lalu, perburuan terhadap jaringannya tetap belum berakhir sampai di sini. Semoga saja, upaya kepolisian membongkar jaringan teroris ini dapat dilakukan dengan lancar. (sukma/berbagai sumber)

Sumber: CBN


copyright © De Jong Java Kauman

2010-2020