Sabtu, 30 Oktober 2010

pemalang nyoblos maning

Pemilihan Umum Kepala daerah (Pemilukada) Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, dilaksanakan pada hari Minggu tanggal 31 Oktober 2010. Digelarnya hajat limatahunan di Pemalang karena bupati HM Machroes SH akan habis masa jabatannya pada 24 Januariu 2011 mendatang. Pesta demokrasi untuk memilih bupati dan wakil bupati periode 2011-2016 tersebut diikuti 4 pasang calon bupati (cabup) dan calon wakil bupati (cawabup).

Masing-masing pasangan calon adalan Yugo Dwijaya (pengusaha) dan Sri Hartati (anggota DPRD), Sumadi Sugondo (mantan Sekda) dan Siti Sukesi (kepala desa), Junaedi (wakil bupati) dan Mukti Agung Wibowo (pengusaha) dan pasangan Kun Sriwibowo (dokter) dengan Endang Purwanti (anggota DPRD).

Nomor Urut Calon Bupati Dan Wakil Bupati Pemalang 2010.

1.Pasangan Yugo Dwijaya-Sri Hartati diusung lintas partai yang terdiri 18 parpol. Dua partai masing-masing Gerindra dan Hanura, memiliki wakil di kursi DPRD setempat, sedang 16 partai lainnya tidak memiliki wakil di kursi dewa.

2. Pasangan Sumadi Sugondo-Siti Sukesi, dicalonkan oleh Partai Golkar.

3. Pasangan Junaedi – Mukti Agung Wibowo diusung koalisi 4 partai, masing-masing PDIP, PKB, PPP dan Demokrat.

4. Pasangan Kun Sriwibowo – Endang Purwanti diusung PKS dan PAN.

Keempat pasangan cabup/wabup tersebut telah mengikuti peroses pencalonan yang ditetapkan KPUD Pemalang sehingga berhak maju ke babak pemilihan pada 31 Oktober. Setelah ditetapkan sebagai peserta pada 2 Oktober lalu.

Daftar Pemilih Tetap Pilkada Pemalang 2010

Sebagaimana data pada rekapitulasi Daftar Pemilih Tetap (DPT) dan Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang ada di KPUD Pemalang, warga yang berhak pilih jumlahnya mencapai 1.049.961 jiwa. Mereka mendatangi, 2.023 TPS yang tersebar di 222 desa/kelurahan di 14 wilayah kecamatan. Rekapitulasi DPT dan TPS ini dikeluarhak KPU Pemalang pada 25 September lalu.

Hasil Pilkada Kabupaten Pemalang ( Penghitungan Cepat Quik Count)

No. Nama Pasangan Perolehan Suara
1 Yugo Dwijaya-Sri Hartati 00 suara (00%)
2 Sumadi Sugondo-Siti Sukesi 00 suara (00%)
3 Junaedi – Mukti Agung Wibowo 00 suara (00%)
4 Kun Sriwibowo – Endang Purwanti 00 suara (00%)

Hasil Pilkada Pemalang ( Penghitungan KPUD )

No. Nama Pasangan Perolehan Suara
1 Yugo Dwijaya-Sri Hartati 00 suara (00%)
2 Sumadi Sugondo-Siti Sukesi 00 suara (00%)
3 Junaedi – Mukti Agung Wibowo 00 suara (00%)
4 Kun Sriwibowo – Endang Purwanti 00 suara (00%)

Dengan berlangsungnya pemilukada di Kabupaten Pemalang pada 31 Oktober 2010, diharapkan bupati terpilih beserta wakilnya mampu merealisasikan semua program yang dipaparkan dalam kampanye.

Rabu, 27 Oktober 2010

segenap keluarga besar DE JONG JAVA KAUMAN mengucapkan salamat hari sumpah pemuda
28 oktober 2010

Minggu, 24 Oktober 2010

motivasion training

Kisah seekor Belalang

Seekor belalang telah lama terkurung dalam sebuah kotak.
Suatu hari ia berhasil keluar dari kotak yang mengurungnya
tersebut. Dengan gembira ia melompat-lompat menikmati
kebebasannya.

Di perjalanan dia bertemu dengan seekor belalang lain.
Namun dia keheranan mengapa belalang itu bisa melompat
lebih tinggi dan lebih jauh darinya.

Dengan penasaran ia menghampiri belalang itu, dan bertanya,
“Mengapa kau bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh,
padahal kita tidak jauh berbeda dari usia ataupun bentuk
tubuh ?”.

Belalang itu pun menjawabnya dengan pertanyaan,
“Dimanakah kau selama ini tinggal? Karena semua belalang
yang hidup di alam bebas pasti bisa melakukan seperti yang
aku lakukan”.

Saat itu si belalang baru tersadar bahwa selama ini kotak
itulah yang membuat lompatannya tidak sejauh dan setinggi
belalang lain yang hidup di alam bebas.

Renungan :
Kadang-kadang kita sebagai manusia, tanpa sadar, pernah
juga mengalami hal yang sama dengan belalang.

Lingkungan yang buruk, hinaan, trauma masa lalu, kegagalan
yang beruntun, perkataan teman atau pendapat tetangga,
seolah membuat kita terkurung dalam kotak semu yang
membatasi semua kelebihan kita. Lebih sering kita mempercayai
mentah-mentah apapun yang mereka voniskan kepada kita
tanpa pernah berpikir benarkah Anda separah itu?
Bahkan lebih buruk lagi, kita lebih memilih mempercayai
mereka daripada mempercayai diri sendiri.

Tidakkah Anda pernah mempertanyakan kepada nurani bahwa
Anda bisa “melompat lebih tinggi dan lebih jauh” kalau Anda
mau menyingkirkan “kotak” itu?
Tidakkah Anda ingin membebaskan diri agar Anda bisa mencapai
sesuatu yang selama ini Anda anggap diluar batas kemampuan
Anda?

Beruntung sebagai manusia kita dibekali Tuhan kemampuan
untuk berjuang, tidak hanya menyerah begitu saja pada apa
yang kita alami. Karena itu teman, teruslah berusaha mencapai
apapun yang Anda ingin capai. Sakit memang, lelah memang,
tapi bila Anda sudah sampai di puncak, semua pengorbanan
itu pasti akan terbayar.

Kehidupan Anda akan lebih baik kalau hidup dengan cara hidup
pilihan Anda. Bukan cara hidup seperti yang mereka pilihkan
untuk Anda.

Minggu, 10 Oktober 2010

Kisah Tragis Korban Tabrakan Kereta di Petarukan

BOJONEGORO – Tabrakan Kereta Api (KA) di Stasiun Patarukan, Pemalang, Jateng membawa duka bagi keluarga Hartiono (50), warga Desa Ngulanan, Kecamatan Dander, Bojonegoro. Ia ikut tewas dalam kecelakaan saat menumpang KA Senja Utama.

Keluarga Hartiono, yang berada di RT 06/01 tak bisa menahan kekalutan saat jenazah korban datang di rumah duka pukul 03.45 WIB Minggu (3/10/2010) pagi. Hujan tangis mewarnai korban yang pulang dalam keadaan di dalam peti. Beberapa anggota keluarga dan warga yang sejak semalam sudah menunggu langsung menyambut peti itu.

Jenazah korban lalu disemayamkan di rumah orang tuanya di Desa Ngulanan dan disambut jerit tangis keluarga yang merasa kehilangan. Suasana kampung yang biasanya sepi mendadak riuh. Suara tangis semakin meledak begitu mobil ambulans menurunkan peti jenazah .

Korban adalah anak ke -4 dari empat bersaudara . Selama ini korban tinggal di Kudus bersama istri serta 7 anaknya di Kudus. “Dia orangnya baik dan tak banyak bicara,” kata Marjan, kakak ipar korban.

Marjan menceritakan, sejak ditinggal di Kudus oleh Hartiono, ia bersama istrinya Sriati yang tak lain saudara korban mengurus rumah orangtuanya di Ngulanan. Kedua orang tua korban sendiri sudah lama tiada. Sehingga, saat keluarga mendapat kabar Hartiono menjadi salah satu korban kecelakaan KA, pihak keluarga sepakat korban dimakamkan di rumah Desa Ngulanan.

“Alasannya makam kedua orang tua berada di Bojonegoro . Dan setiap tahun semua keluarga berkumpul,” katanya.

Ia menceritakan, selama ini korban bekerja sebagai karyawan di bagian Pengkreditan Bank BNI 46 Jakarta. Terakhir kali pulang ke Bojonegoro yakni saat lebaran hari ke empat beberapa waktu lalu. Marjan mengaku tak ada firasat buruk bakal menimpa adik iparnya. Bahkan sejak dipindah ke Jakarta, almarhum berjanji menyekolahkan ke-7 anaknya sampai perguruan tinggi. “Sekarang 3 orang anak korban duduk di bangku kuliah fakultas kedokteran,” kenangnya.

Saat kejadian, korban sendiri hendak pulang ke rumahnya di Kudus dan menumpang KA Senja Utama. Kepulangan ke Kudus awalnya karena ia ingin mempersiapkan rapat bersama Direksi di Jakarta pada Senin ini. Tapi apa mau dikata Tuhan berkehendak lain, dan korban dipanggil Nya lebih dulu.

Menurut Hasan, pimpinan kredit Bank BNI 46 Cabang Bojonegoro, rapat itu rutin dilakukan. Kemungkinan korban ingin menyempatkan bertemu keluarga di Kudus. “Rencannya Senin nanti pak Har (korban,red) akan ikut rapat bersama sama,” katanya.

Setelah mendengar kabar duka tersebut, Hasan mendapat tugas mencari rumah orang tua korban di Bojonegoro. Ternyata saat ia bertamu ke rumah korban, ternyata keluarga korban sudah mengetahui kabar tersebut pada pk.13.00 Sabtu (2/10) siang. Seluruh anggota keluarga korban sangat histeris mendengar kabar tersebut. Pasalnya sehari sebelumnya istri almarhum , Siti Patini, mengabarkan melalui telepon jika korban baik -baik saja. “Kami tidak menyangka dik Har meninggal dalam kecelakaan kereta,” kata Sriati, kakak korban.

Setelah jenazah korban datang, satu persatu keluarga berkumpul mendatangi rumah orang tua korban. Suasana semakin haru ketika anak korban yang ke- dua tiba dari Makasar sekitar pukul 02.30 WIB. Gadis yang menempuh kuliah di fakultas kedokteran di Makasar ini disambut jerit tangis sanak saudaranya. Bahkan Zubaidah, keponakan korban sampai jatuh pingsan dan terkulai lemas

kecelakaan di pemalang

KECELAKAAN PEMALANG
Tujuh Harian, Dirjen Perkeretaapian Gelar Tahlilan di Stasiun Petarukan

ILUSTRASI


RMOL. Setelah kemarin melakukan tahlilan dan sholat ghoib atas kecelakaan kereta api Petarukan, Pemalang di Masjid Cut Mutia, Johar, Jakarta Pusat, kini Direktorat Perkeretaapian, Departemen Perhubungan menggelar hal yang sama di lokasi kejadian, Stasiun Petarukan, Pemalang.

"Acara ini dilakukan tepat tujuh hari kecelakaan kereta api," ujar Dirjen Perkeretaapian, Departemen Perhubungan, Tundjung Indrawan di Stasiun Petarukan, Pemalang, Jawa Tengah, Jumat (8/10).

Selain mengadakan mengadakan tahlilan, Direktorat Perkeretaapian juga menyantuni 100 anak yatim sekitar tempat kejadian.

"Ini dilakukan sebagai ucapan terima kasih kami kepada warga sekitar yang telah memberikan pertolongan pertama pada saat kecelakaan terjadi, dan meluangkan waktu dan tenaga pada saat evakuasi korban," lanjutnya.
Korban Tewas Banjir Wasior Mencapai 124 orang

(IST)

INILAH.COM, Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat hingga saat ini korban meninggal dunia akibat bencana banjir bandang di Wasior, Papua Barat, berjumlah 124 orang.

Menurut BNPB hingga pukul 18.00 WIB, Sabtu lalu (9/10), tercatat korban meninggal dunia telah mencapai 124 orang. Sementara korban yang mengalami luka berat mencapai 172 orang.

Dari 172 orang itu, 115 orang dirawat di RSUD Nabire dan 57 orang di RSUD Manokwari. Sementara luka ringan mencapai 535 orang. Selain itu 123 orang masih dilaporkan hilang.

BNPB juga mencatat sebanyak 2.192 orang mengungsi ke Manokwari dan Nabire, serta 2.283 pengungsi lainnya tersebar di Kab. Teluk Wondama. Tenda-tenda pengungsian telah didirikan untuk menampung korban bencana tersebut.

Sebelumnya pemerintah melalui Kementerian Sosial akan memberikan santunan Rp4 juta bagi ahli waris korban banjir bandang di Wasior, Teluk Wondama, Papua Barat.

"Rp4 juta per korban tewas. Jika dalam satu keluarga ada dua korban tewas maka dua dikali Rp4 juta begitu juga seterusnya," kata Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri di Manokwari, Papua Barat, usai meninjau korban banjir di Wasior, Sabtu lalu.

Jumat, 01 Oktober 2010

G 30 September 1965/Partai Komunis Indonesia (PKI)



Peristiwa Gerakan 30 September 1965/Partai Komunis Indonesia (PKI) bagi bangsa Indonesia mungkin tidak akan dilupakan. Pasalnya, dalam peristiwa tersebut menewaskan 6 jenderal yakni Letjen TNI Ahmad Yani, Mayjen TNI R Suprapto, Mayjen TNI MT Haryono, Mayjen TNI Siswondo Parman, Brigjen TNI DI Panjaitan, Brigjen TNI Sutoyo Siswomiharjo dan Lettu Pierre Tendean yang dibunuh secara keji oleh PKI.



Terbongkarnya G 30/SPKI itu kemudian dijadikan cikal bakal peringatan Hari Kesaktian Pancasila. Setiap tanggal 1 Oktober digelar upacara nasional mengenang peristiwa tersebut di halaman Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya. Termasuk di kantor-kantor instansi pemerintah maupun sekolah-sekolah.


Kita semua tahu dari pelajaran sekolah apa sebabnya diberi nama Hari Kesaktian Pancasila, yaitu telah terbukti bahwa Pancasila itu ampuh dan berhasil menghalau dan menumpas komunis dan PKI dari muka bumi Indonesia dan menyelamatkan bangsa Indonesia dari kehancuran pada percobaan kudeta PKI tahun 1965. Meskipun sampai kini sejarawan masih melakukan kajian-kajian terhadap tudingan pelaku pembantaian ke enam jenderal dan seorang letnan.


Seiring dengan pergantian pemimpin di negara ini, maka lambat-laun peringatan Hari Kesaktian Pancasila juga mulai ditiadakan.


Menurut sejarawan Universitas Negeri Medan, Dr Phil Ichwan Azhari MS, pada masa kepemimpinan Presiden Megawati Soekarno Putri, peringatan seremonial ini sudah tidak dilaksanakan lagi. Demikian juga dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang hanya sempat sekali memperingatinya dan tidak lagi di tahun-tahun berikut kepemimpinannya.


Tidak adanya lagi upacara peringatan peristiwa monumental itu dinilai Ichwan merupakan konsekuensi dari manipulasi sejarah yang diciptakan penguasa pada masa lalu. Sebab begitu kepemimpinannya berakhir, maka terjadi delegitimasi yang dasarnya timbul karena sesuatu yang dipaksakan.


Bagi Ichwan, peristiwa itu memang harus diperingati setiap warga negara Indonesia sebagai bentuk mengingat sejarah yang telah menewaskan 6 jenderal dan 1 perwira pertama (Pama). "Harus juga dikaji bahwa pelajaran sejarah di sekolah perlu diluruskan. Sebab pada tragedi 30 September itu masih misterius apakah benar pelakunya PKI, apalagi pasca 1 Oktober terjadi pembantaian sehingga menewaskan sedikitnya 500 warga," ujarnya.


"Namun di balik peristiwa tersebut, kita perlu memaknai Hari Kesaktian Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Sebab Pancasila yang lahir dari akar sejarah budaya bangsa itu mengandung nilai-nilai luhur universal yang menjadi pedoman bagi bangsa Indonesia yakni Ketuhanan yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, dan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Meskipun kita tidak tahu apakah Pancasila telah benar-benar diamalkan oleh seluruh komponen bangsa Indonesia," ujar Ketua Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial Lembaga Penelitian (Pussis-Unimed) ini.


Hal senada juga disampaikan Erond Damanik yang juga Peneliti di Pussis-Unimed. Menurutnya, sampai saat ini sejarawan masih terus melaukkan kajian terhadap siapa pelaku yang sebenarnya yang telah membunuh para jenderal tersebut.
Peringatan Hari Kesaktian Pancasila menurut Erond harus diperingati terutama para siswa sebagai generasi penerus. Karena itu dia mengaku prihatin dengan mulai ditiadakannya monumental peristiwa tersebut yang selama ini telah menjadi suatu tradisi setiap tahunnya.


"Hal ini penting agar sejarah itu tidak memudar. Meskipun materi pelajaran sejarah tentang peristiwa G 30 S/PKI masih tetap diberlakukan di sekolah-sekolah," ucap Erond.



Mulai "luntur"


Sementara itu peringatan Hari Kesaktian Pancasila ini di sejumlah sekolah di Medan bukan saja kehilangan makna tapi juga sudah mulai "luntur". Ini terlihat upacara bendera yang tak lagi dilaksanakan sebagaimana rutinitas tahunan.


Menurut Aritya, Ketua Osis Sekolah Menengah Atas (SMA) 17 Medan, dalam peringatan kesaktian Pancasila kali ini sama seperti tahun sebelumnya. Tidak ada upacara atau seremonial dalam rangka memperingati hari bersejarah itu.


"Nggak ada. Kita juga heran dan penasaran kenapa tidak ada lagi upacara seperti masih duduk di SMP dulu," katanya.


Aritya mengaku tidak tahu apa alasan peringatan upacara tersebut tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Baginya, peringatan 1 Oktober ini satu hal yang penting untuk dikenang. Sehingga tahu dan mengerti sejarah lahirnya pancasila.


"Ini penting, agar kita tau menghargai para pejuang yang telah mempertahankan ideologi," ujarnya.
Sementara itu Reni Siregar, siswi kelas XII SMA Negeri 5 Medan mengaku, tidak pernah mengikuti upacara perigatan Hari Kesaktian Pancasila, karena di sekolahnya memang tidak diadakan upacara nasional tersebut.


Menurut remaja manis ini, jika tidak salah, setiap menjelang peringatan hari Kesaktian Pancasila warga selalu disarankan untuk pasang bendera setengah tiang pada tanggal 30 September untuk mengenang para korban PKI. Setelah itu dilanjutkan esok harinya pada tanggal 1 Oktober dengan pemasangan bendera penuh.


"Perayaan hari Kesaktian Pancasila dirayakan untuk membangkitkan semangat persatuan setelah masyarakat mengalami masa ketakutan, mengetahui pembunuhan massal para jenderal," ujar Reni seraya menyebutkan tetap menginginkan Pancasila dipertahankan sebagai ideologi bangsa.


Secara terpisah Nur Azizah Tambunan anggota DPRD Sumut 2009-2010 menilai makna dari Kesaktian Pancasila saat ini belum terintegrasi. Ini disebabkan kurangnya ketauladanan. Bagi Azizah, hari Kesaktian Pancasila ini merupakan roh dan jiwanya setiap warga negara Indonesia.


Pancasila menurutnya merupakan substansi dari keberagaman beragama di Indonesia yang mengandung nilai nilai kebenaran. "Pancasila merupakan pondasi yang mampu membatasi diri masyarakat, jadi dasar pijakan. Jika ini kokoh, berarti rakyat maupun bangsa ini akan aman dari gangguan eksternal maupun internal," katanya.


Menurut pemahaman Azizah, 1 Oktober memiliki arti, semangat baru untuk sebuah pondasi. Harusnya setelah hari itu, akan menjadi awal mula dari semangat baru.


Peringatan seperti tahun-tahun sebelumnya, dinilainya masih tetap penting dan diharapkan tidak hanya pada sebatas peringatan semata.


"Diharapkan, tidak hanya sekedar mata pelajaran, simbol yang dibacakan maupun diperlombakan dalam ajang cerdas cermat saja. Namun ini lebih dari sekedar simbol yang ada dalam sistem kenegaraan," tukasnya.


Bag Azizah, peringatan Hari Kesaktian Pancasila itu sangat perlu dilakukan khususnya terhada para siswa, dengan tujuan untuk menanamkan jiwa-jiwa nasionalisme dan menyampaikan tentang nilai-nilai luhur dari Pancasila itu.


"Apabila hal ini tidak dilakukan lagi, saya khawatir akan bisa menghilangkan tentang makna Hari Kesaktian Pancasila itu yang pada akhirnya bisa memudarkan sejarah tersebut," kata Azizah.

Sejarawan: Gerakan 30 September Tidak Akan Terungkap


Yogyakarta (ANTARA) - Peristiwa Gerakan 30 September 1965 tidak akan pernah terungkap secara utuh karena seluruh tokoh kunci gerakan tersebut sudah meninggal dunia, kata sejarawan dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Budiawan.

"Rangkaian kejadiannya memang dapat terlacak, tetapi siapa yang sesungguhnya menjadi dalang gerakan tersebut tidak akan pernah diketahui karena sudah tidak ada tokoh kunci gerakan tersebut yang masih hidup," katanya di Yogyakarta, Kamis.

Selain itu, menurut dia versi-versi sejarah tentang Gerakan 30 September yang diungkapkan para ahli hanya mengungkapkan secara sepotong-sepotong dan sebagian besar tidak melalui metodologi penelitian baku.

"Versi tunggal yang digunakan oleh rezim Orde Baru ternyata juga tidak sepenuhnya benar, cenderung mendramatisasi fakta, bahkan berbagai pihak menganggap versi Soeharto dongeng belaka," katanya.

Selain itu, ia mengatakan diskriminasi yang dialami oleh mantan tahanan politik Orde Baru telah mengakibatkan beban psikologis kepada para mantan tahanan politik tersebut.

"Setelah mereka dibebaskan tidak serta merta mereka mendapatkan kebebasan yang sesungguhnya karena pada kenyataannya mendapat stigma sangat buruk dari kalangan masyarakat," katanya.

Ia mengatakan diskriminasi tersebut tidak hanya datang dari negara dan masyarakat, bahkan para mantan tahanan politik Orde Baru mendapat diskriminasi dari saudara mereka.

"Situasi yang mengondisikan para mantan tahanan politik tersebut menjadi pihak yang serba salah. Orde Baru berperan besar dalam menciptakan diskriminasi tersebut," katanya.

Menurut dia, aparatur negara tidak merasa mendiskriminasikan para mantan tahanan politik karena merasa memiliki payung hukum yang sah untuk menempatkan para mantan tahanan politik sebagai warga yang patut dibedakan.

"Oleh karena itu sampai saat ini para mantan tahanan politik tersebut masih menyimpan trauma dan menanggung beban psikologis yang sangat berat," katanya.

copyright © De Jong Java Kauman

2010-2020