Awan panas 'wedhus gembel' kembali meluncur dari Gunung Merapi. Akibatnya, tim SAR yang sedang mengevakuasi korban terpaksa menghentikan pencarian.
"Sementara evakuasi kami hentikan dulu," kata Kepala Tim SAR Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Suseno, dalam keterangan kepada VIVAnews.com, Minggu 14 November 2010.
Menurut Suseno, informasi dari Badan Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) menyebutkan Merapi kembali mengeluarkan awan panas sekitar pukul 10.38 WIB. Hingga kini, awan panas masih berlangsung.
Kondisi Merapi yang berkabut menyulitkan petugas mengetahui arah luncuran. Oleh karena itu, jarak dan luncuran wedhus gembel sama sekali belum bisa dilaporkan arahnya.
"Di atas juga hujan dan tertutup kabut. Dikhawatirkan kami tidak mengetahui luncuran awan panas. Jadi, Tim SAR menghentikan dulu untuk evakuasi," ujar Suseno.
Tim SAR sendiri kali ini fokus melakukan pencarian korban di Dusun Ngancar Kecamatan Cangkringan. Beberapa dusun lain di Cangkringan juga menjadi target evakuasi.
Pagi ini, petugas menemukan empat jenazah dari Cangkringan. Keempatnya ditemukan dalam kondisi mengenaskan.
Minggu, 14 November 2010
merapi masih mengancam
Empat korban tewas akibat sapuan awan panas Gunung Merapi, telah ditemukan di tempat berbeda oleh tim evakuasi gabungan TNI, polisi, tim SAR, dan sejumlah relawan. Satu jenazah dari Glagaharjo, dan tiga jenazah lainnya dari Dusun Gadingan Lor, Argomulyo, Cangkringan.
"Ada empat jenazah korban sapuan awan panas Merapi. Satu dari Glagaharo, dan tiga dari Dusun Gadingan Los, Cangkringan," kata Supangadi, staf Instalasi Kedokteran Forensik (IKF) RS DR. Sardjito, Sabtu, (13/11/2010), saat ditemui di kantornya.
Sebelumnya, diberitakan bahwa korban tewas yang dapat ditemukan itu berdasarkan informasi warga yang melaporkan kehilangan anggota keluarganya. "Saat ditemukan kondisi korban sudah tinggal tulang-tulang saja," kata koordinator tim evakuasi Kapten Infantri Yonif 403/WP Arif Subagio, Sabtu, (13/11/2010), kepada Tribunnews, saat dihubungi melalui telepon.
Oleh karena itu, lanjut Kapten Arif, jumlah korban saat evakuasi di lokasi belum dapat diketahui. Namun, berdasarkan informasi warga yang melaporkan kehilangan keluarganya, di dusun itu jumlahnya ada tujuh orang.
"Tapi kita kidak bisa berpatokan dari laporan tersebut karena saat ditemukan tinggal tulang-tulang. Kalau soal jumlah lebih baik tunggu hasil dari RS DR. Sardjito saja," ujarnya.
Proses evakuasi korban di Dusun Gading Lor pagi itu, berlangsung selama tiga jam. Dua jam dibutuhkan untuk menyisir jenazah korban. Satu jam, waktu yang dibutuhkan untuk pengangkatannya.
"Ada empat jenazah korban sapuan awan panas Merapi. Satu dari Glagaharo, dan tiga dari Dusun Gadingan Los, Cangkringan," kata Supangadi, staf Instalasi Kedokteran Forensik (IKF) RS DR. Sardjito, Sabtu, (13/11/2010), saat ditemui di kantornya.
Sebelumnya, diberitakan bahwa korban tewas yang dapat ditemukan itu berdasarkan informasi warga yang melaporkan kehilangan anggota keluarganya. "Saat ditemukan kondisi korban sudah tinggal tulang-tulang saja," kata koordinator tim evakuasi Kapten Infantri Yonif 403/WP Arif Subagio, Sabtu, (13/11/2010), kepada Tribunnews, saat dihubungi melalui telepon.
Oleh karena itu, lanjut Kapten Arif, jumlah korban saat evakuasi di lokasi belum dapat diketahui. Namun, berdasarkan informasi warga yang melaporkan kehilangan keluarganya, di dusun itu jumlahnya ada tujuh orang.
"Tapi kita kidak bisa berpatokan dari laporan tersebut karena saat ditemukan tinggal tulang-tulang. Kalau soal jumlah lebih baik tunggu hasil dari RS DR. Sardjito saja," ujarnya.
Proses evakuasi korban di Dusun Gading Lor pagi itu, berlangsung selama tiga jam. Dua jam dibutuhkan untuk menyisir jenazah korban. Satu jam, waktu yang dibutuhkan untuk pengangkatannya.
Hujan di Puncak Merapi
Warga Diminta Waspadai Lahar Dingin
Ahad, 14 November 2010, 12:03 WIB
Warga Diminta Waspadai Lahar Dingin
Lahar dingin Merapi ,Hujan mengguyur puncak Gunung Merapi pada Ahad (14/11) pagi ini. Relawan dan warga diharapkan waspada terhadap terjadinya aliran lahar dingin yang akan mengaliri sungai-sungai berhulu di Merapi.
"Terjadi aliran diiringi material," ujar percakapan di HT dengan gelombang informasi soal Merapi, Ahad (14/11).
Sungai-sungai berhulu di Merapi seperti Kali Gendol, Kali Boyong, Kali Kuning, Kali Krasak, Kali Code, dan Kali Apu. Petugas informasi Merapi pun mengingatkan agar para warga, relawan dan wartawan waspada terhadap aliran lahar dingin. Aliran lahar dingin itu, menurut petugas tersebut, ditandai dengan adanya bau belerang.
Sedangkan batas aman aliran lahar dingin tersebut, ujar sang petugas, ada di kisaran 500 meter. "Jarak aman masih di 500 meter. Harap waspada,"tuturnya. Petugas pun mengimbau agar warga yang berada di pinggir kali menggunakan masker.
Selain itu, menurut pantauan HT, terdapat kepulan asap vulkanik coklat dan putih yang membumbung ke arah vertikal. Sementara angin sendiri, bergerak ke timur laut dan cenderung ke barat merapi.
Sementara, kegiatan evakuasi warga yang diduga tewas akibat bencana masih dilakukan oleh TNI Angkatan Darat (Kopasus), tim Search and Rescue (SAR), PMI, Wanadri, dan relawan lainnya di Desa Ngempringan, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta.
Tim kopasus dan PMI kembali menggunakan alat berat haglun untuk menerobos medan evakuasi. Sayangnya, pencarian yang dilakukan dari pukul 07.00 hingga pukul 10.00 WIB itu tidak menemukan satu pun korban yang diduga masih tertimbun abu vulkanik.
Salah satu warga Ngempringan, Slamet, mengatakan, masih terdapat tujuh orang tetangganya yang diduga hilang. "Ada tujuh. Pak Proyatmojo, Mbok Sisum Mitrowiyono, Dalini, Mbah Muh Haji Wiyono, Murtini, Mbok Si Pon, Parmi," tutur Slamet di lokasi. Menurutnya, tujuh orang tersebut tertinggal setelah letusan besar Merapi pada Kamis (4/11) lalu.
Warga Diminta Waspadai Lahar Dingin
Ahad, 14 November 2010, 12:03 WIB
Warga Diminta Waspadai Lahar Dingin
Lahar dingin Merapi ,Hujan mengguyur puncak Gunung Merapi pada Ahad (14/11) pagi ini. Relawan dan warga diharapkan waspada terhadap terjadinya aliran lahar dingin yang akan mengaliri sungai-sungai berhulu di Merapi.
"Terjadi aliran diiringi material," ujar percakapan di HT dengan gelombang informasi soal Merapi, Ahad (14/11).
Sungai-sungai berhulu di Merapi seperti Kali Gendol, Kali Boyong, Kali Kuning, Kali Krasak, Kali Code, dan Kali Apu. Petugas informasi Merapi pun mengingatkan agar para warga, relawan dan wartawan waspada terhadap aliran lahar dingin. Aliran lahar dingin itu, menurut petugas tersebut, ditandai dengan adanya bau belerang.
Sedangkan batas aman aliran lahar dingin tersebut, ujar sang petugas, ada di kisaran 500 meter. "Jarak aman masih di 500 meter. Harap waspada,"tuturnya. Petugas pun mengimbau agar warga yang berada di pinggir kali menggunakan masker.
Selain itu, menurut pantauan HT, terdapat kepulan asap vulkanik coklat dan putih yang membumbung ke arah vertikal. Sementara angin sendiri, bergerak ke timur laut dan cenderung ke barat merapi.
Sementara, kegiatan evakuasi warga yang diduga tewas akibat bencana masih dilakukan oleh TNI Angkatan Darat (Kopasus), tim Search and Rescue (SAR), PMI, Wanadri, dan relawan lainnya di Desa Ngempringan, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta.
Tim kopasus dan PMI kembali menggunakan alat berat haglun untuk menerobos medan evakuasi. Sayangnya, pencarian yang dilakukan dari pukul 07.00 hingga pukul 10.00 WIB itu tidak menemukan satu pun korban yang diduga masih tertimbun abu vulkanik.
Salah satu warga Ngempringan, Slamet, mengatakan, masih terdapat tujuh orang tetangganya yang diduga hilang. "Ada tujuh. Pak Proyatmojo, Mbok Sisum Mitrowiyono, Dalini, Mbah Muh Haji Wiyono, Murtini, Mbok Si Pon, Parmi," tutur Slamet di lokasi. Menurutnya, tujuh orang tersebut tertinggal setelah letusan besar Merapi pada Kamis (4/11) lalu.
Langganan:
Postingan (Atom)
copyright © De Jong Java Kauman
2010-2020