Pemilihan Umum Kepala daerah (Pemilukada) Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, dilaksanakan pada hari Minggu tanggal 31 Oktober 2010. Digelarnya hajat limatahunan di Pemalang karena bupati HM Machroes SH akan habis masa jabatannya pada 24 Januariu 2011 mendatang. Pesta demokrasi untuk memilih bupati dan wakil bupati periode 2011-2016 tersebut diikuti 4 pasang calon bupati (cabup) dan calon wakil bupati (cawabup).
Masing-masing pasangan calon adalan Yugo Dwijaya (pengusaha) dan Sri Hartati (anggota DPRD), Sumadi Sugondo (mantan Sekda) dan Siti Sukesi (kepala desa), Junaedi (wakil bupati) dan Mukti Agung Wibowo (pengusaha) dan pasangan Kun Sriwibowo (dokter) dengan Endang Purwanti (anggota DPRD).
Nomor Urut Calon Bupati Dan Wakil Bupati Pemalang 2010.
1.Pasangan Yugo Dwijaya-Sri Hartati diusung lintas partai yang terdiri 18 parpol. Dua partai masing-masing Gerindra dan Hanura, memiliki wakil di kursi DPRD setempat, sedang 16 partai lainnya tidak memiliki wakil di kursi dewa.
2. Pasangan Sumadi Sugondo-Siti Sukesi, dicalonkan oleh Partai Golkar.
3. Pasangan Junaedi – Mukti Agung Wibowo diusung koalisi 4 partai, masing-masing PDIP, PKB, PPP dan Demokrat.
4. Pasangan Kun Sriwibowo – Endang Purwanti diusung PKS dan PAN.
Keempat pasangan cabup/wabup tersebut telah mengikuti peroses pencalonan yang ditetapkan KPUD Pemalang sehingga berhak maju ke babak pemilihan pada 31 Oktober. Setelah ditetapkan sebagai peserta pada 2 Oktober lalu.
Daftar Pemilih Tetap Pilkada Pemalang 2010
Sebagaimana data pada rekapitulasi Daftar Pemilih Tetap (DPT) dan Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang ada di KPUD Pemalang, warga yang berhak pilih jumlahnya mencapai 1.049.961 jiwa. Mereka mendatangi, 2.023 TPS yang tersebar di 222 desa/kelurahan di 14 wilayah kecamatan. Rekapitulasi DPT dan TPS ini dikeluarhak KPU Pemalang pada 25 September lalu.
Hasil Pilkada Kabupaten Pemalang ( Penghitungan Cepat Quik Count)
No. Nama Pasangan Perolehan Suara
1 Yugo Dwijaya-Sri Hartati 00 suara (00%)
2 Sumadi Sugondo-Siti Sukesi 00 suara (00%)
3 Junaedi – Mukti Agung Wibowo 00 suara (00%)
4 Kun Sriwibowo – Endang Purwanti 00 suara (00%)
Hasil Pilkada Pemalang ( Penghitungan KPUD )
No. Nama Pasangan Perolehan Suara
1 Yugo Dwijaya-Sri Hartati 00 suara (00%)
2 Sumadi Sugondo-Siti Sukesi 00 suara (00%)
3 Junaedi – Mukti Agung Wibowo 00 suara (00%)
4 Kun Sriwibowo – Endang Purwanti 00 suara (00%)
Dengan berlangsungnya pemilukada di Kabupaten Pemalang pada 31 Oktober 2010, diharapkan bupati terpilih beserta wakilnya mampu merealisasikan semua program yang dipaparkan dalam kampanye.
Sabtu, 30 Oktober 2010
Rabu, 27 Oktober 2010
segenap keluarga besar DE JONG JAVA KAUMAN mengucapkan salamat hari sumpah pemuda
28 oktober 2010
28 oktober 2010
Minggu, 24 Oktober 2010
motivasion training
Kisah seekor Belalang
Seekor belalang telah lama terkurung dalam sebuah kotak.
Suatu hari ia berhasil keluar dari kotak yang mengurungnya
tersebut. Dengan gembira ia melompat-lompat menikmati
kebebasannya.
Di perjalanan dia bertemu dengan seekor belalang lain.
Namun dia keheranan mengapa belalang itu bisa melompat
lebih tinggi dan lebih jauh darinya.
Dengan penasaran ia menghampiri belalang itu, dan bertanya,
“Mengapa kau bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh,
padahal kita tidak jauh berbeda dari usia ataupun bentuk
tubuh ?”.
Belalang itu pun menjawabnya dengan pertanyaan,
“Dimanakah kau selama ini tinggal? Karena semua belalang
yang hidup di alam bebas pasti bisa melakukan seperti yang
aku lakukan”.
Saat itu si belalang baru tersadar bahwa selama ini kotak
itulah yang membuat lompatannya tidak sejauh dan setinggi
belalang lain yang hidup di alam bebas.
Renungan :
Kadang-kadang kita sebagai manusia, tanpa sadar, pernah
juga mengalami hal yang sama dengan belalang.
Lingkungan yang buruk, hinaan, trauma masa lalu, kegagalan
yang beruntun, perkataan teman atau pendapat tetangga,
seolah membuat kita terkurung dalam kotak semu yang
membatasi semua kelebihan kita. Lebih sering kita mempercayai
mentah-mentah apapun yang mereka voniskan kepada kita
tanpa pernah berpikir benarkah Anda separah itu?
Bahkan lebih buruk lagi, kita lebih memilih mempercayai
mereka daripada mempercayai diri sendiri.
Tidakkah Anda pernah mempertanyakan kepada nurani bahwa
Anda bisa “melompat lebih tinggi dan lebih jauh” kalau Anda
mau menyingkirkan “kotak” itu?
Tidakkah Anda ingin membebaskan diri agar Anda bisa mencapai
sesuatu yang selama ini Anda anggap diluar batas kemampuan
Anda?
Beruntung sebagai manusia kita dibekali Tuhan kemampuan
untuk berjuang, tidak hanya menyerah begitu saja pada apa
yang kita alami. Karena itu teman, teruslah berusaha mencapai
apapun yang Anda ingin capai. Sakit memang, lelah memang,
tapi bila Anda sudah sampai di puncak, semua pengorbanan
itu pasti akan terbayar.
Kehidupan Anda akan lebih baik kalau hidup dengan cara hidup
pilihan Anda. Bukan cara hidup seperti yang mereka pilihkan
untuk Anda.
Seekor belalang telah lama terkurung dalam sebuah kotak.
Suatu hari ia berhasil keluar dari kotak yang mengurungnya
tersebut. Dengan gembira ia melompat-lompat menikmati
kebebasannya.
Di perjalanan dia bertemu dengan seekor belalang lain.
Namun dia keheranan mengapa belalang itu bisa melompat
lebih tinggi dan lebih jauh darinya.
Dengan penasaran ia menghampiri belalang itu, dan bertanya,
“Mengapa kau bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh,
padahal kita tidak jauh berbeda dari usia ataupun bentuk
tubuh ?”.
Belalang itu pun menjawabnya dengan pertanyaan,
“Dimanakah kau selama ini tinggal? Karena semua belalang
yang hidup di alam bebas pasti bisa melakukan seperti yang
aku lakukan”.
Saat itu si belalang baru tersadar bahwa selama ini kotak
itulah yang membuat lompatannya tidak sejauh dan setinggi
belalang lain yang hidup di alam bebas.
Renungan :
Kadang-kadang kita sebagai manusia, tanpa sadar, pernah
juga mengalami hal yang sama dengan belalang.
Lingkungan yang buruk, hinaan, trauma masa lalu, kegagalan
yang beruntun, perkataan teman atau pendapat tetangga,
seolah membuat kita terkurung dalam kotak semu yang
membatasi semua kelebihan kita. Lebih sering kita mempercayai
mentah-mentah apapun yang mereka voniskan kepada kita
tanpa pernah berpikir benarkah Anda separah itu?
Bahkan lebih buruk lagi, kita lebih memilih mempercayai
mereka daripada mempercayai diri sendiri.
Tidakkah Anda pernah mempertanyakan kepada nurani bahwa
Anda bisa “melompat lebih tinggi dan lebih jauh” kalau Anda
mau menyingkirkan “kotak” itu?
Tidakkah Anda ingin membebaskan diri agar Anda bisa mencapai
sesuatu yang selama ini Anda anggap diluar batas kemampuan
Anda?
Beruntung sebagai manusia kita dibekali Tuhan kemampuan
untuk berjuang, tidak hanya menyerah begitu saja pada apa
yang kita alami. Karena itu teman, teruslah berusaha mencapai
apapun yang Anda ingin capai. Sakit memang, lelah memang,
tapi bila Anda sudah sampai di puncak, semua pengorbanan
itu pasti akan terbayar.
Kehidupan Anda akan lebih baik kalau hidup dengan cara hidup
pilihan Anda. Bukan cara hidup seperti yang mereka pilihkan
untuk Anda.
Minggu, 10 Oktober 2010
Kisah Tragis Korban Tabrakan Kereta di Petarukan
BOJONEGORO – Tabrakan Kereta Api (KA) di Stasiun Patarukan, Pemalang, Jateng membawa duka bagi keluarga Hartiono (50), warga Desa Ngulanan, Kecamatan Dander, Bojonegoro. Ia ikut tewas dalam kecelakaan saat menumpang KA Senja Utama.
Keluarga Hartiono, yang berada di RT 06/01 tak bisa menahan kekalutan saat jenazah korban datang di rumah duka pukul 03.45 WIB Minggu (3/10/2010) pagi. Hujan tangis mewarnai korban yang pulang dalam keadaan di dalam peti. Beberapa anggota keluarga dan warga yang sejak semalam sudah menunggu langsung menyambut peti itu.
Jenazah korban lalu disemayamkan di rumah orang tuanya di Desa Ngulanan dan disambut jerit tangis keluarga yang merasa kehilangan. Suasana kampung yang biasanya sepi mendadak riuh. Suara tangis semakin meledak begitu mobil ambulans menurunkan peti jenazah .
Korban adalah anak ke -4 dari empat bersaudara . Selama ini korban tinggal di Kudus bersama istri serta 7 anaknya di Kudus. “Dia orangnya baik dan tak banyak bicara,” kata Marjan, kakak ipar korban.
Marjan menceritakan, sejak ditinggal di Kudus oleh Hartiono, ia bersama istrinya Sriati yang tak lain saudara korban mengurus rumah orangtuanya di Ngulanan. Kedua orang tua korban sendiri sudah lama tiada. Sehingga, saat keluarga mendapat kabar Hartiono menjadi salah satu korban kecelakaan KA, pihak keluarga sepakat korban dimakamkan di rumah Desa Ngulanan.
“Alasannya makam kedua orang tua berada di Bojonegoro . Dan setiap tahun semua keluarga berkumpul,” katanya.
Ia menceritakan, selama ini korban bekerja sebagai karyawan di bagian Pengkreditan Bank BNI 46 Jakarta. Terakhir kali pulang ke Bojonegoro yakni saat lebaran hari ke empat beberapa waktu lalu. Marjan mengaku tak ada firasat buruk bakal menimpa adik iparnya. Bahkan sejak dipindah ke Jakarta, almarhum berjanji menyekolahkan ke-7 anaknya sampai perguruan tinggi. “Sekarang 3 orang anak korban duduk di bangku kuliah fakultas kedokteran,” kenangnya.
Saat kejadian, korban sendiri hendak pulang ke rumahnya di Kudus dan menumpang KA Senja Utama. Kepulangan ke Kudus awalnya karena ia ingin mempersiapkan rapat bersama Direksi di Jakarta pada Senin ini. Tapi apa mau dikata Tuhan berkehendak lain, dan korban dipanggil Nya lebih dulu.
Menurut Hasan, pimpinan kredit Bank BNI 46 Cabang Bojonegoro, rapat itu rutin dilakukan. Kemungkinan korban ingin menyempatkan bertemu keluarga di Kudus. “Rencannya Senin nanti pak Har (korban,red) akan ikut rapat bersama sama,” katanya.
Setelah mendengar kabar duka tersebut, Hasan mendapat tugas mencari rumah orang tua korban di Bojonegoro. Ternyata saat ia bertamu ke rumah korban, ternyata keluarga korban sudah mengetahui kabar tersebut pada pk.13.00 Sabtu (2/10) siang. Seluruh anggota keluarga korban sangat histeris mendengar kabar tersebut. Pasalnya sehari sebelumnya istri almarhum , Siti Patini, mengabarkan melalui telepon jika korban baik -baik saja. “Kami tidak menyangka dik Har meninggal dalam kecelakaan kereta,” kata Sriati, kakak korban.
Setelah jenazah korban datang, satu persatu keluarga berkumpul mendatangi rumah orang tua korban. Suasana semakin haru ketika anak korban yang ke- dua tiba dari Makasar sekitar pukul 02.30 WIB. Gadis yang menempuh kuliah di fakultas kedokteran di Makasar ini disambut jerit tangis sanak saudaranya. Bahkan Zubaidah, keponakan korban sampai jatuh pingsan dan terkulai lemas
Keluarga Hartiono, yang berada di RT 06/01 tak bisa menahan kekalutan saat jenazah korban datang di rumah duka pukul 03.45 WIB Minggu (3/10/2010) pagi. Hujan tangis mewarnai korban yang pulang dalam keadaan di dalam peti. Beberapa anggota keluarga dan warga yang sejak semalam sudah menunggu langsung menyambut peti itu.
Jenazah korban lalu disemayamkan di rumah orang tuanya di Desa Ngulanan dan disambut jerit tangis keluarga yang merasa kehilangan. Suasana kampung yang biasanya sepi mendadak riuh. Suara tangis semakin meledak begitu mobil ambulans menurunkan peti jenazah .
Korban adalah anak ke -4 dari empat bersaudara . Selama ini korban tinggal di Kudus bersama istri serta 7 anaknya di Kudus. “Dia orangnya baik dan tak banyak bicara,” kata Marjan, kakak ipar korban.
Marjan menceritakan, sejak ditinggal di Kudus oleh Hartiono, ia bersama istrinya Sriati yang tak lain saudara korban mengurus rumah orangtuanya di Ngulanan. Kedua orang tua korban sendiri sudah lama tiada. Sehingga, saat keluarga mendapat kabar Hartiono menjadi salah satu korban kecelakaan KA, pihak keluarga sepakat korban dimakamkan di rumah Desa Ngulanan.
“Alasannya makam kedua orang tua berada di Bojonegoro . Dan setiap tahun semua keluarga berkumpul,” katanya.
Ia menceritakan, selama ini korban bekerja sebagai karyawan di bagian Pengkreditan Bank BNI 46 Jakarta. Terakhir kali pulang ke Bojonegoro yakni saat lebaran hari ke empat beberapa waktu lalu. Marjan mengaku tak ada firasat buruk bakal menimpa adik iparnya. Bahkan sejak dipindah ke Jakarta, almarhum berjanji menyekolahkan ke-7 anaknya sampai perguruan tinggi. “Sekarang 3 orang anak korban duduk di bangku kuliah fakultas kedokteran,” kenangnya.
Saat kejadian, korban sendiri hendak pulang ke rumahnya di Kudus dan menumpang KA Senja Utama. Kepulangan ke Kudus awalnya karena ia ingin mempersiapkan rapat bersama Direksi di Jakarta pada Senin ini. Tapi apa mau dikata Tuhan berkehendak lain, dan korban dipanggil Nya lebih dulu.
Menurut Hasan, pimpinan kredit Bank BNI 46 Cabang Bojonegoro, rapat itu rutin dilakukan. Kemungkinan korban ingin menyempatkan bertemu keluarga di Kudus. “Rencannya Senin nanti pak Har (korban,red) akan ikut rapat bersama sama,” katanya.
Setelah mendengar kabar duka tersebut, Hasan mendapat tugas mencari rumah orang tua korban di Bojonegoro. Ternyata saat ia bertamu ke rumah korban, ternyata keluarga korban sudah mengetahui kabar tersebut pada pk.13.00 Sabtu (2/10) siang. Seluruh anggota keluarga korban sangat histeris mendengar kabar tersebut. Pasalnya sehari sebelumnya istri almarhum , Siti Patini, mengabarkan melalui telepon jika korban baik -baik saja. “Kami tidak menyangka dik Har meninggal dalam kecelakaan kereta,” kata Sriati, kakak korban.
Setelah jenazah korban datang, satu persatu keluarga berkumpul mendatangi rumah orang tua korban. Suasana semakin haru ketika anak korban yang ke- dua tiba dari Makasar sekitar pukul 02.30 WIB. Gadis yang menempuh kuliah di fakultas kedokteran di Makasar ini disambut jerit tangis sanak saudaranya. Bahkan Zubaidah, keponakan korban sampai jatuh pingsan dan terkulai lemas
kecelakaan di pemalang
KECELAKAAN PEMALANG
Tujuh Harian, Dirjen Perkeretaapian Gelar Tahlilan di Stasiun Petarukan
ILUSTRASI
RMOL. Setelah kemarin melakukan tahlilan dan sholat ghoib atas kecelakaan kereta api Petarukan, Pemalang di Masjid Cut Mutia, Johar, Jakarta Pusat, kini Direktorat Perkeretaapian, Departemen Perhubungan menggelar hal yang sama di lokasi kejadian, Stasiun Petarukan, Pemalang.
"Acara ini dilakukan tepat tujuh hari kecelakaan kereta api," ujar Dirjen Perkeretaapian, Departemen Perhubungan, Tundjung Indrawan di Stasiun Petarukan, Pemalang, Jawa Tengah, Jumat (8/10).
Selain mengadakan mengadakan tahlilan, Direktorat Perkeretaapian juga menyantuni 100 anak yatim sekitar tempat kejadian.
"Ini dilakukan sebagai ucapan terima kasih kami kepada warga sekitar yang telah memberikan pertolongan pertama pada saat kecelakaan terjadi, dan meluangkan waktu dan tenaga pada saat evakuasi korban," lanjutnya.
Tujuh Harian, Dirjen Perkeretaapian Gelar Tahlilan di Stasiun Petarukan
ILUSTRASI
RMOL. Setelah kemarin melakukan tahlilan dan sholat ghoib atas kecelakaan kereta api Petarukan, Pemalang di Masjid Cut Mutia, Johar, Jakarta Pusat, kini Direktorat Perkeretaapian, Departemen Perhubungan menggelar hal yang sama di lokasi kejadian, Stasiun Petarukan, Pemalang.
"Acara ini dilakukan tepat tujuh hari kecelakaan kereta api," ujar Dirjen Perkeretaapian, Departemen Perhubungan, Tundjung Indrawan di Stasiun Petarukan, Pemalang, Jawa Tengah, Jumat (8/10).
Selain mengadakan mengadakan tahlilan, Direktorat Perkeretaapian juga menyantuni 100 anak yatim sekitar tempat kejadian.
"Ini dilakukan sebagai ucapan terima kasih kami kepada warga sekitar yang telah memberikan pertolongan pertama pada saat kecelakaan terjadi, dan meluangkan waktu dan tenaga pada saat evakuasi korban," lanjutnya.
Korban Tewas Banjir Wasior Mencapai 124 orang
(IST)
INILAH.COM, Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat hingga saat ini korban meninggal dunia akibat bencana banjir bandang di Wasior, Papua Barat, berjumlah 124 orang.
Menurut BNPB hingga pukul 18.00 WIB, Sabtu lalu (9/10), tercatat korban meninggal dunia telah mencapai 124 orang. Sementara korban yang mengalami luka berat mencapai 172 orang.
Dari 172 orang itu, 115 orang dirawat di RSUD Nabire dan 57 orang di RSUD Manokwari. Sementara luka ringan mencapai 535 orang. Selain itu 123 orang masih dilaporkan hilang.
BNPB juga mencatat sebanyak 2.192 orang mengungsi ke Manokwari dan Nabire, serta 2.283 pengungsi lainnya tersebar di Kab. Teluk Wondama. Tenda-tenda pengungsian telah didirikan untuk menampung korban bencana tersebut.
Sebelumnya pemerintah melalui Kementerian Sosial akan memberikan santunan Rp4 juta bagi ahli waris korban banjir bandang di Wasior, Teluk Wondama, Papua Barat.
"Rp4 juta per korban tewas. Jika dalam satu keluarga ada dua korban tewas maka dua dikali Rp4 juta begitu juga seterusnya," kata Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri di Manokwari, Papua Barat, usai meninjau korban banjir di Wasior, Sabtu lalu.
(IST)
INILAH.COM, Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat hingga saat ini korban meninggal dunia akibat bencana banjir bandang di Wasior, Papua Barat, berjumlah 124 orang.
Menurut BNPB hingga pukul 18.00 WIB, Sabtu lalu (9/10), tercatat korban meninggal dunia telah mencapai 124 orang. Sementara korban yang mengalami luka berat mencapai 172 orang.
Dari 172 orang itu, 115 orang dirawat di RSUD Nabire dan 57 orang di RSUD Manokwari. Sementara luka ringan mencapai 535 orang. Selain itu 123 orang masih dilaporkan hilang.
BNPB juga mencatat sebanyak 2.192 orang mengungsi ke Manokwari dan Nabire, serta 2.283 pengungsi lainnya tersebar di Kab. Teluk Wondama. Tenda-tenda pengungsian telah didirikan untuk menampung korban bencana tersebut.
Sebelumnya pemerintah melalui Kementerian Sosial akan memberikan santunan Rp4 juta bagi ahli waris korban banjir bandang di Wasior, Teluk Wondama, Papua Barat.
"Rp4 juta per korban tewas. Jika dalam satu keluarga ada dua korban tewas maka dua dikali Rp4 juta begitu juga seterusnya," kata Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri di Manokwari, Papua Barat, usai meninjau korban banjir di Wasior, Sabtu lalu.
Selasa, 05 Oktober 2010
Langganan:
Postingan (Atom)
copyright © De Jong Java Kauman
2010-2020